Rabu, 23 November 2016

SMP N SULANG, BIOPORI DAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN




BIOPORI DAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN
Sekarang ini keperdulian terhadap lingkungan hidup sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari. Bahkan kalau bisa memang kita sebaiknya mulai melakukan langkah-langkah kecil untuk mencapai agregat yang besar dampaknya bagi lingkungan.
Pengertian tentang ‘biopori’ dan ‘lubang biopori’ telah penulis jelaskan dengan beberapa pendapat yang berbeda dari berbagai kalangan. Untuk lebih memahami dari penjelasan diatas, penulis pada bagian ini akan menampilkan beberapa gambar tentang biopori.

Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 – 30 cm dan kedalaman sekitar 100 cm, atau dalam kasus tanah dengan permukaan air tanah dangkal, tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah (Gambar 2.) Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori. Biopori adalah pori-pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman (Gambar 3). Gambar 4, menunjukkan penampang dari lubang resapan biop
2.2 Manfaat Biopori
Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari biopori, bila kita mau menerapkannya di lingkungan sekitar. Namun, hasil penerapan biopori akan lebih memuaskan jika kita semua mau bergotong-royong untuk menerapkannya secara bersama-sama di lingkungan. Semakin banyak yang menerapkan, maka semakin besar manfaat yang kita peroleh. Dalam hal ini, penulis akan menyebutkan semua manfaat dari diterapkannya biopori dalam lingkungan adalah sebagai berikut
  1. Griya (2008) menguraikan manfaat biopori sebagai berikut:
a. Mencegah banjir
Banjir sendiri telah menjadi bencana yang merugikan bagi warga Jakarta. Keberadaan lubang biopori dapat menjadi jawaban dari masalah tersebut. Bayangkan bila setiap rumah, kantor atau tiap bangunan di Jakarta memiliki biopori berarti jumlah air yang segera masuk ke tanah tentu banyak pula dan dapat mencegah terjadinya banjir. Berkurangnya ruang terbuka hijau menyebabkan berkurangnya permukaan yang dapat meresapkan air kedalam tanah di kawasan permukiman. Peningkatan jumlah air hujan yang dibuang karena berkurangnya laju peresapan air kedalam tanah akan menyebabkan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
1.      Tempat pembuangan sampah organik
Banyaknya sampah yang bertumpuk juga telah menjadi masalah tersendiri di kota Jakarta. Kita dapat pula membantu mengurangi masalah ini dengan memisahkan sampah rumah tangga kita menjadi sampah organik dan non organik. Untuk sampah organik dapat kita buang dalam lubang biopori yang kita buat.

  1. Menyuburkan tanaman
Sampah organik yang kita buang di lubang biopori merupakan makanan untuk organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman di sekitarnya.
  1. Meningkatkan kualitas air tanah
Organisme dalam tanah mampu membuat samapah menjadi mineral-mineral yang kemudian dapat larut dalam air. Hasilnya, air tanah menjadi berkualitas karena mengandung mineral.
Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara
1. Meningkatkan daya resapan air
Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom atau dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm 2 atau hampir 1/3 m 2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78,5 cm 2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm 2.
Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu, bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya
alam meresapkan air. Dengan demikian kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air.
    1. Mengubah sampah organik menjadi kompos
Lubang resapan biopori ‘diaktifkan’ dengan memberikan sampah organik kedalamnya. Sampah ini akan dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompoisi ini dikenal sebagai kompos.. Dengan melalui proses seperti itu maka lubang resapan biopori selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga sekaligus berfungsi sebagai “pabrik” pembuat kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, sayuran, dan jenis tanaman lainnya. Bagi mereka yang senang dengan budidaya tanaman atau sayuran organik maka kompos dari LRB adalah alternatif yang dapat digunakan sebagai pupuk sayurannya.
    1. Memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman
Seperti disebutkan di atas, Lubang Resapan Biopori (LRB) diaktikan oleh organisme tanah, khususnya fauna tanah dan perakaran tanaman. Aktivitas merekalah yang selanjutnya akan menciptakan rongga-rongga atau liang-liang di dalam tanah yang akan dijadikan “saluran” air untuk meresap ke dalam tubuh tanah. Dengan memanfaatkan aktivitas mereka maka rongga-rongga atau liang-liang tersebut akan senantiasa terpelihara dan terjaga keberadaannya sehingga kemampuan peresapannya akan tetap terjaga tanpa campur tangan langsung dari manusia untuk pemeliharaannya. Hal ini tentunya akan sangat menghemat tenaga dan biaya.
Kewajiban faktor manusia dalam hal ini adalah memberikan pakan kepada mereka berupa sampah organik pada periode tertentu. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan menjadi humus dan tubuh biota dalam tanah, tidak cepat diemisikan ke atmosfer sebagai gas rumah kaca; berarti mengurangi pemanasan global dan memelihara biodiversitas dalam tanah.
Dengan banyak manfaat biopori sebagaimana yang disampaikan diatas, SMP N 2 Sulang sebagai lembaga pendidikan yang menyandang status sekolah adiwiyata tentu sangat mempertakan betul hal tersebut dan mendorong warga sekolah untuk selalu memperhatikan aspek keseimbangan alam termasuk didalamnya meperbanyak lubang biopori.

Selasa, 22 November 2016

DENGAN STIKER SISWA SISWI SMP N 2 SULANG MENGKAMPAYEKAN ANTI ROKOK DAN NARKOBA





Masa remaja adalah masa peralihan, masa pencarian jari diri, masa yang rentan dengan masuknya hal-hal negatif  seperti rokok dan narkoba. Dari berbagia pengertian remaja diatas maka kita dapat melihat misalnya bagaimana pasar rokok belakangan ini adalah sasaranya anak muda dengan iklan-iklan yang super mengoda sebagaimana alkohol dan narkoba sasarannya juga anak muda karena mereka mudah untuk ditaklukkan. Produk-produk pakaian dan kecantikan, dan teknologi komunikasi juga memilih indiom-indiom anak muda, mesiki rekatif meraka belum memiliki penghasilan akan tetapi meraka bisa memaksa orang tuanya untuk membelanjakan uangnya. termasuk hendonisme syahwat birahi.
Dari data hasil survey di Indonesia --seperti Riskesdas, GYTS dan GATS[1]-- menunjukkan pengaruh konsumsi rokok bagi kesehatan masyarakat. Menurut GATS 2011, prevalensi laki-laki merokok sebesar 67 persen dan wanita 2.7 persen. Lebih lanjut data Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi laki-laki perokok sebesar 65.6 persen (tertinggi di Sulawesi Tenggara 74.2%) dan wanita perokok sebesar 5.2 persen (tertinggi di NTT 9.2%). Lebih lanjut, didalam Riskesdas 2010 ditemui 34,7 persen penduduk Indonesia menjadi perokok aktif yang kebanyakan berpendidikan rendah dan mayoritas tinggal di pedesaan. Dengan penduduk Indonesia 237,56 juta (SP-2010) maka proporsi tersebut setara dengan 82 juta penduduk yang menjadi perokok aktif.
Usia perokok di Indonesia kini semakin muda, bahkan telah menyentuh usia anak-anak. Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa Kaum Muda laki-laki usia 15–19 tahun yang merokok sebesar 37.3 persen dan yang wanita sebesar 1.6 persen. Temuan GATYS 2009 menemukan 30.4 persen Kaum Muda sekolah berusia 13-15 tahun menyatakan pernah merokok; yang laki-laki sebesar 57.8 persen dan wanita 6.4 persen. Dari sejumlah tersebut, 20.3 persen adalah perokok aktif dengan proporsi laki-laki sebesar 41 persen dan wanita 3.5 persen. Sementara, data Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi merokok pada Kaum Muda wanita sekolah usia 13–15 tahun lebih tinggi dibandingkan prevalensi merokok pada wanita dewasa. GATYS 2009 menunjukkan bahwa 51 persen Kaum Muda usia 13-15 tahun dapat secara bebas membeli rokok di toko/warung, dan 59 persen dari mereka menyebutkan bahwa mereka tidak mendapat penolakan atau teguran dari penjual di toko/warung ketika membeli rokok tersebut.
Yang lebih mencemaskan, dalam analisis nasional Riskesdas 2007, menemukan adanya Kaum Muda laki-laki usia 10–14 tahun yang merokok sebesar 3.5 persen dan yang wanita sebesar 0.5 persen. Bila dibandingkan, data Riskesdas 1995 menunjukkan ada 71.126 perokok Kaum Muda usia 10-14 tahun di Indonesia yang naik pesat menjadi 426.214 orang di tahun 2007. Artinya, selama 12 tahun tersebut telah terjadi kenaikan 6 kali lipat perokok Kaum Muda usia kurang dari 10 tahun.
Komnas Perlindungan Anak menunjukkan selama tahun 2008 hingga 2012 jumlah perokok anak dibawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang. Sedangkan jumlah perokok anak antara usia 10-14 tahun mencapai 1,2 juta orang. Menurut Arist Merdeka Sirait, kondisi ini yang menyebabkan Indonesia disebut sebagai satu-satunya negara di dunia dengan baby smoker karena rata-rata perokok anak di Indonesia menghabiskan 40 batang rokok perhari. Menurut Kemenkes, berdasarkan usia, Kaum Muda yang mulai merokok pada usia 5 tahun tertinggi di Jawa Timur disusul Jawa Tengah
Pemakaian narkoba di Indonesia juga tidak kalah meprihatinkan, dari data yang ada di Indonesia sekitar 4,1 juta Kaum Muda yang terlibat penyalahgunaannya, mulai dari menghirup bahan kimia (ngelem), ectasy sampai pada pecandu berat heroin (putauw).
Tentunya data-data diatas menjadi cermin betapa marak serta akutnya rokok dan narkona di Indonesia. Oleh karenanya, dengan media stiker siswa-siswi SMP N 2 Salang mengkapanyekan tentang bahaya rokok dan narkoba, baik itu berbahaya dari sektor fisik, psikis, maupun ekonomi.

DAUR ULANG SAMPAH DI SMP N 2 SULANG



KEGIATAN DAUR ULANG SAMPAH
 Daur ulang sampah atau mengolah suatu bahan bekas   menjadi suatu bahan baru yang lebih berharga merupakan suatau setrategi untuk mengurangi polusi, mengurangi penggunaan energi, mengurangi kerusakan lahan serta emisi gas rumah kaca. Daur ulang sendiri merupakan salah satu cara untuk mengelola sampah padat. Proses daur ulang ini sendiri terdiri dari beberapa kegiatan, antara lain pemilahan, pengmpulan, pemrosesan, pendistribusian serta pembuatan material atau produk bekas pakai.
Terdapat komponen utama dalam manajemen sampah modern, yaitu 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Adapun jenis-jenis sampah yang bisa didaur ulang adalah sampah plastik, kaca, logam, kertas, tekstil serta barang-barang elektronik. Untuk sampah organik tidak dimasukkan dalam kategori ini karena sampah organic bisa didegradasi oleh alam secara alami. Jadi secara garis besar, daur ulang itu sendiri merupakan proses yang dimulai dari pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan dan pemrosesan material baru yang kemudian dilanjutkan dengan proses produksi.
SMP N 2 Sulang sebagai sekolah adiwiyata juga melakukan hal yang sama. Dibawah bimbingan Megawati Purba, S.Pd anak-anak dengan semangat mendaur ulang sampah plastik atau sampah dari jajanan mereka dirubah dengan berbagai barang yang memiliki nilai jual seperti tas, dompet, tempat alat tulis, dan sebagainya.
Sudah selayaknya kita peduli dengan kondisi alam dunia ini kususnya Indonesia. Tentu,  SMP N 2 Sulang sebagai sekolah adiwiyata selalu memberikan pemahaman serta pelatihan kepada peserta didik untuk memanfaatkan sampah baik itu sampah organik maupun sampah anorganik.